Root
Cause Analysis (RCA) adalah salah satu tool continuous improvement dan metode problem
solving yang bertujuan untuk mengidentifikasi akar dari masalah tertentu
yang muncul pada sistem atau proses.
Root
Cause Analysis (RCA) adalah sebuah pendekatan terstruktur untuk
mengidentifikasi berbagai faktor diantaranya alam, situasi dan kondisi,
magnitude, lokasi, manusia, waktu terjadinya masalah dari kejadian-kejadian di
masa lalu untuk mengidentifikasi penyebab masalah yang bisa diperbaiki untuk
mencegah masalah yang sama terjadi kembali. RCA juga berguna untuk
mengidentifikasi pelajaran yang dapat dipetik untuk mencegah kerugian kembali
terjadi dalam proses.
RCA
dapat diarahkan kepada banyak tujuan yang spesifik. Para praktisi continuous
improvement merumuskan lima pendekatan dasar yang dapat dilakukan dengan RCA.
Mereka adalah:
- RCA satefy-based: merupakan
usaha identifikasi permasalahan yang berkaitan dengan keselamatan. RCA
dilakukan dengan analisa kecelakaan yang pernah terjadi dan
penyebab-penyebabnya, untuk meningkatkan kesehatan dan keselamatan
pekerja.
- RCA production-based: berasal
dari konsep quality control untuk manufaktur, RCA produksi fokus kepada
analisa penyebab cacat dan masalah yang terjadi pada proses produksi
mencakup mesin, operator, dan peralatan.
- RCA process-based: pada
dasarnya merupakan perluasan dari konsep RCA production-based, namun
dengan ruang lingkup yang lebih luas, termasuk analisa penyebab masalah
yang terjadi pada business process.
- RCA failure-based: berasal dari
praktek failure analysis yang dilakukan pada proses engineering dan
maintenance, bertujuan untuk mengetahui akar masalah yang menjadi penyebab
masalah pada kedua proses tersebut.
- RCA systems-based: ini adalah
pendekatan gabungan yang merangkul pendekatan-pendekatan RCA yang lain,
dengan konsep-konsep yang diadaptasi dari berbagai sudut pandang, seperti change
management, risk management dan systems analysis.
Terdapat
berbagai metode evaluasi terstruktur untuk
mengidentifikasi akar penyebab (
root cause) suatu kejadiaan yang tidak
diharapkan (
undesired outcome). Jing (2008) menjelaskan lima metode
yang populer untuk mengidentifikasi akar penyebab (
root cause) suatu
kejadiaan yang tidak diharapkan (
undesired outcome) dari yang
sederhana sampai dengan komplek yaitu : 1)
Is/Is not comparative analysis,
2) 5
Why methods, 3)
Fishbone diagram, 4)
Cause and
effect matrix, dan 5)
Root Cause Tree.
Is/Is not comparative analysis merupakan metoda komparatif yang
digunakan untuk permasalahan sederhana, dapat memberikan gambaran detil apa
yang terjadi dan telah sering digunakan untuk menginvestigasi akar masalah. 5
Why
methods merupakan
alat analisis sederhana
yang
memungkinkan untuk menginvestigasi suatu masalah secara mendalam.
Fishbon diagram merupakan alat analisis
yang populer, yag sangat baik untuk menginvestigasi penyebab dalam jumlah
besar. Kelemahan utamanya adalah hubungan antar penyebab tidak langsung
terlihat, dan interaksi antar komponen tidak dapat teridentifikasi.
Cause
and effect matrix merupakan
matrik sebab akibat yang
dituliskan dalam bentuk tabel dan memberikan bobot pada setiap faktor
penyebab masalah.
Root Cause Tree merupakan alat analisis sebab
– akibat yang paling sesuai untuk permasalahan yang kompleks. Manfaat utama
dari alat analisis tersebut yaitu memungkinkan untuk mengidentifikasi
hubungan diantara penyebab masalah.
Chandler (2004)
dalam Ramadhani
et. al (2007) menyebutkan
bahwa dalam memanfaatkan RCA terdapat empat langkah yang harus dilakukan yaitu
: 1) mengidentifikasi dan memperjelas definisi
undesired outcome (suatu
kejadiaan yang tidak diharapkan), 2) mengumpulkan data, 3) menempatkan
kejadian-kejadian dan kondisi-kondisi pada
event and causal factor table,
dan 4) lanjutkan pertanyaan “mengapa” untuk mengidentifikasi
root causes
yang paling kritis.
Why metode analisis adalah alat bantu (tool) root cause analysis
untuk problem solving. Tool ini membantu mengidentifikasi
akar masalah atau penyebab dari sebuah ketidaksesuaian pada proses atau produk.
Why-Why
Analysis atau 5 Why’s Analysis biasa digunakan bersama dengan Diagram Tulang
Ikan (Fishbone Diagram) dan menggunakan teknik iterasi dengan bertanya MENGAPA
(Why) dan diulang beberapa kali sampai menemukan akar masalahnya, dan
kemudian perbaikan. melakukan
Contohnya
sebagai berikut:
Masalah:
Mesin Breakdown/Rusak.
- Mengapa? Komponen automator
tidak berfungsi.
- Mengapa tidak berfungsi? Usia
komponen sudah melebihi batas lifetime 12 bulan.
- Mengapa tidak diganti saat
mencapai batas tersebut? Tidak ada yang tahu batas lifetime komponen
tersebut.
- Mengapa tidak ada yang tahu?
Tidak ada pencatatan data penggantian komponen.
- Mengapa tidak ada pencatatan?
Nah, sebenarnya kita telah tiba pada salah satu potensi akar masalah,
yaitu tidak adanya pencatatan data penggantian komponen.
Untuk
sampai pada pada akar masalah, bisa pada pertanyaan kelima atau bahkan
bisa lebih atau kurang tergantung dari tipe masalahnya.
Tahapan
umum saat melakukan root cause analysis dengan why why analysis:
- Menentukan masalahnya dan area
masalahnya
- Mengumpulkan tim untuk brainstorming
sehingga kita bisa memiliki berbagai pandangan, pengetahuan, pengalaman,
dan pendekatan yang berbeda terhadap masalah
- Melakukan gemba (turun
ke lapangan) untuk melihat area aktual, obyek aktual, dengan data aktual.
- Mulai bertanya menggunakan Why
Why
- Setelah sampai pada akar
masalah, ujilah setiap jawaban dari yang terbawah apakah jawaban tersebut
akan berdampak pada akibat di level atasnya. Contoh: apakah jika kita
memiliki pencatatan penggantian komponen maka akan mudah bagi Tim Maintenance
untuk melakukan penggantian komponen secara rutin? Apakah hal tersebut
paling masuk akal dalam menyebabkan dampak di level atasnya? Apakah ada alternatif
kemungkinan penyebab lainnya?
- Pada umumnya solusi tidak
mengarah pada menyalahkan ke orang tapi bagaimana cara melakukan perbaikan
sistem atau prosedur.
- Jika akar penyebab sudah
diketahui maka segera identifikasi dan implementasikan solusinya.
- Monitor terus kinerjanya untuk
memastikan bahwa masalah tersebut tidak terulang lagi.
Fishbone diagram (diagram tulang ikan — karena bentuknya seperti
tulang ikan) sering juga disebut
Cause-and-Effect Diagram atau
Ishikawa
Diagram diperkenalkan oleh Dr. Kaoru Ishikawa, seorang ahli pengendalian
kualitas dari Jepang, sebagai satu dari tujuh alat kualitas dasar (
7 basic
quality tools).
Fishbone diagram digunakan ketika kita ingin
mengidentifikasi kemungkinan penyebab masalah dan terutama ketika sebuah
team
cenderung jatuh berpikir pada rutinitas
(Tague, 2005,
p. 247).
Suatu tindakan dan langkah
improvement
akan lebih mudah dilakukan jika masalah dan akar penyebab masalah sudah
ditemukan. Manfaat
fishbone diagram ini dapat menolong kita untuk
menemukan akar penyebab masalah secara
user friendly,
tools
yang
user friendly disukai orang-orang di industri manufaktur di
mana proses di sana terkenal memiliki banyak ragam variabel yang berpotensi
menyebabkan munculnya permasalahan (Purba, 2008, para. 1–6).
Fishbone diagram akan
mengidentifikasi berbagai sebab potensial dari satu efek atau masalah,
dan menganalisis masalah tersebut melalui sesi
brainstorming. Masalah
akan dipecah menjadi sejumlah kategori yang berkaitan, mencakup manusia,
material, mesin, prosedur, kebijakan, dan sebagainya. Setiap kategori mempunyai
sebab-sebab yang perlu diuraikan melalui sesi
brainstorming.